0 Comments

Dampak asap kebakaran tidak hanya membuat udara terasa pengap dan jarak pandang berkurang. Asap yang masuk ke udara membawa partikel halus serta berbagai zat yang dapat mengganggu kesehatan. Paparan dalam waktu tertentu bisa memicu masalah pernapasan hingga memperburuk penyakit yang sudah ada.

Kondisi ini perlu mendapat perhatian, terutama ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi dalam skala luas. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa karhutla di sejumlah wilayah Indonesia pada Agustus 2026 memicu gangguan kesehatan, dengan ISPA menjadi salah satu masalah yang banyak ditemukan.

Mengapa Asap Kebakaran Berbahaya bagi Tubuh?

Asap kebakaran membawa campuran gas dan partikel yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah partikel halus seperti PM2,5.

Partikel berukuran sangat kecil dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Karena itu, kualitas udara yang buruk akibat asap kebakaran dapat memberikan dampak lebih besar dibandingkan sekadar rasa tidak nyaman saat menghirup udara.

WHO menyebut asap kebakaran sebagai salah satu ancaman kesehatan karena dapat menyebabkan penurunan kualitas udara secara drastis dan meningkatkan kunjungan ke fasilitas kesehatan akibat gangguan pernapasan.

Dampak Asap Kebakaran pada Pernapasan

Saluran pernapasan menjadi salah satu bagian tubuh yang paling cepat merasakan dampak asap. Seseorang dapat mengalami batuk, tenggorokan terasa kering atau sakit, hingga sesak napas.

Paparan asap juga dapat memperburuk kondisi seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK. Orang yang sebelumnya memiliki gangguan paru perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk.

Selain itu, paparan asap dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Kemenkes melaporkan 4.082 kasus ISPA pada 27 Agustus 2026 dalam situasi karhutla yang berdampak pada sejumlah provinsi.

Mata Juga Bisa Mengalami Iritasi

Dampak asap kebakaran tidak hanya menyerang paru-paru. Mata juga dapat mengalami gangguan ketika terpapar udara yang penuh asap.

Gejala yang muncul antara lain mata terasa perih, merah, gatal, dan berair. Hidung serta tenggorokan juga dapat terasa tidak nyaman.

Jika paparan terus berlangsung, keluhan tersebut dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menganggap mata perih atau tenggorokan terasa mengganjal sebagai keluhan yang selalu ringan.

Asap Kebakaran Bisa Memperburuk Penyakit yang Sudah Ada

Orang dengan penyakit tertentu memiliki risiko lebih tinggi ketika kualitas udara menurun. Asap dapat memperberat keluhan pada penderita asma dan penyakit paru kronis.

Kelompok rentan juga mencakup anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta. Kemenkes meminta kelompok tersebut mendapat perlindungan ekstra ketika menghadapi paparan asap akibat karhutla.

Anak-anak perlu mendapat perhatian khusus karena sistem pernapasan mereka masih berkembang. Lansia dan penderita penyakit kronis juga dapat mengalami gejala lebih berat ketika menghirup udara dengan banyak polutan.

Bagaimana Cara Mengurangi Dampak Asap Kebakaran?

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi paparan asap. Pertama, batasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Jika harus keluar rumah, gunakan masker yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan partikel di udara. Kemenkes juga menganjurkan masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat, termasuk menjaga asupan makanan bergizi dan mencukupi waktu istirahat.

Di dalam rumah, tutup pintu dan jendela ketika asap dari luar mulai masuk. Usahakan juga tidak menambah sumber polusi udara dari dalam rumah, seperti asap rokok atau pembakaran sampah.

Masyarakat dapat memantau informasi kualitas udara sebelum menentukan aktivitas di luar rumah. Langkah sederhana tersebut dapat membantu mengurangi durasi paparan.

Kenali Gejala yang Membutuhkan Perhatian

Jangan abaikan gejala yang muncul setelah seseorang terpapar asap dalam waktu tertentu. Batuk, sesak napas, nyeri dada, napas berbunyi, atau gangguan pernapasan yang semakin berat perlu mendapat perhatian.

Kemenkes menganjurkan masyarakat segera mendatangi dokter atau fasilitas kesehatan apabila mengalami masalah kesehatan yang mengganggu akibat paparan asap.

Bagi penderita penyakit tertentu, obat rutin juga perlu tersedia dengan cukup. Jangan menunggu kondisi memburuk sebelum mencari pertolongan medis.

Lindungi Kelompok yang Lebih Rentan

Ketika asap kebakaran mulai memenuhi lingkungan, perlindungan terhadap anggota keluarga yang rentan perlu menjadi prioritas. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma atau PPOK sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Kondisi udara yang buruk juga perlu menjadi perhatian bagi pekerja yang banyak menghabiskan waktu di luar ruangan. Mengurangi durasi paparan dapat membantu menekan risiko gangguan kesehatan akibat asap.

Pada akhirnya, dampak asap kebakaran bagi kesehatan tidak boleh dianggap sebagai masalah lingkungan semata. Asap dapat mengganggu saluran pernapasan, memicu iritasi mata, memperburuk penyakit paru, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan lainnya. Menjaga kualitas udara di sekitar tempat tinggal dan mengurangi paparan menjadi langkah penting selama kondisi kebakaran masih berlangsung.

Baca juga: Dampak Negatif Polusi Udara terhadap Kesehatan Jantung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts